Integrasi Komunikasi Industri Poperti (Final)

Posted by on May 12th, 2011 and filed under Artikel. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

wordpress plugins and themes automotive,business,crime,health,life,politics,science,technology,travel

properti

Yogyakarta, yogyaproperty.com. Berbagai usaha industri termasuk property perlu berkonsolidasi terkait dampak keuangan global saat ini. Pengembang tentunya dituntut berhati-hati dengan permodalannya dan juga harus menghadapi konsumen secara konfrontasi. Sekali lagi, proyek yang sudah diluncurkan tidak bisa ditunda lagi. Sementara calon konsumen yang hendak membeli memilih mundur dan menunda transaksinya.

Inilah tantangan bagi marketer properti. Oleh karena itu strategi pemasaran yang diterapkan oleh tiap pengembang dipertaruhkan. Diskon, diskon, dan diskon bukan lagi strategi yang jitu. Lebih dari itu pengembang dipaksa harus lebih cerdas, berbeda dan berani. Kuncinya, permodalannya harus kuat. Dikatakan oleh Penanggilan dalam majalah Marketing: “Kalau tidak kuat, ya jangan jadi pengembang”. Menurutnya pula kecerdasaan pengembang harus benar-benar diasah. Selling tanpa strategi diferensiasi akan mati. Sebab, kini konsumen berpikir 10 kali lipat untuk membeli properti.

Bagaimana caranya untuk membuat konsumen tetap membeli dimusim “paceklik” seperti ini? Penjelasan Pananggilan antara laian; Pertama, pengembang harus rela mengorbankan harga lewat pengorbanan margin, dengan tujuan untuk mengompensasi kenaikan suku bunga melalui subsidi.

Kedua, untuk pemilik dana tunai, pengembang sebaiknya menerapkan pembelian dengan cara tunai bertahap dengan modal pengembang sendiri. Semisal pengembang menawarkan cicilan tetap selama lima tahun dengan tanpa bunga. Saat ini beberapa pengembang besar telah melakukan penawaran pembayaran semacam itu.

Ketiga, melakukan iklan yang mengedukatif konsumen, bukan hanya “jor-joran” iklan di media elektronik maupun cetak dengan mengekspose produk-produknya saja. Ekspose produk tanpa pengedukasian merupakan komunikasi pemasaran klasik yang lambat laun akan ditinggalkan konsumen.

Strategi-strategi diatas merupakan strategi diferensasi dengan komunikasi pemasaran terintegrasi yang sepatutnya disiapkan pengembang properti, guna menjadikan industri propertinya tetap eksis dikala berbagai kondisi yang sulit menerpa bisnis industri terkhusus properti.

Penulis: Aulia Rahman

Sumber: “Potret Industri” Majalah Marketing edisi Desember 2008, Bisnis-Jateng edisi 7 Februari 2011, Kompas edisi Senin, 21 Februari 2001

Sumber Gambar:partnerproperti.blogspot.com

Leave a Reply

Log in / Yogya Property | Propertinya Orang Jogja